Archive for February, 2007

Lihat Ke Bawah

“Kita mesti bersyukur. Masih banyak orang lain yang kurang mampu…”

Kalimat ini pasti sering kita dengar. Kadang-kadang kalimat seperti ini tampak bagus dan tampak sangat wajar. Intinya kita harus melihat ke bawah agar mau bersyukur. Saya masih ingat waktu itu ada yang bilang, kalau kita ngiri sama orang yang udah punya mobil sementara kita masih naik motor, lihat ada saudara-saudara kita yang harus jalan kaki. Kalau kita cuma bisa jalan kaki, lihat ada saudara-saudara kita yang ga bisa jalan.

Tapi kadang-kadang saya rasa konsep itu aneh juga. Kalau kita disuruh lihat ke bawah untuk dapat bersyukur, seandainya kita yang paling bawah, apa yang bisa kita syukuri? Mungkin yang ada malah “syukurin!” Bersyukur dapet C karena ada yang dapet D, bersyukur wajah biasa aja karena ada yang lebih jelek. Jadi kalau kita mau bersukur, harus ada orang lain yang lebih sengsara gitu? Kesannya kita bukannya mensyukuri apa yang kita punya, tapi menyukuri apa yang orang lain ga punya. Atau mungkin istilahnya “bersyukur di atas penderitaan orang lain” :p

Hehe… ya pasti maksudnya baik sih, cuman kok rasanya kurang sreg aja. Lihat ke bawah itu bagus kalau kita ingin peduli. Lihat ke atas bagus kalau kita ingin maju. Lihat ke samping bagus kalau kita ingin ngeceng :p Kalau kita ingin bersyukur? Hmm… Mungkin kita cuma perlu lihat ke dalam. Kita bisa lihat ke dalam diri kita sendiri dan menyadari betapa banyak anugerah yang diberikan pada kita, tanpa harus membanding-bandingkannya dengan apa yang orang lain punya atau tidak punya.

Advertisements

Malu-Malu Mecin

Kalau ke Basdat, biasanya saya merhatiin layar komputer atau merhatiin seseorang. Sekarang ada yang dapat mengalihkan perhatian saya. Apa lagi kalau bukan Mie Remezz ABC 😀 Tersedia dalam tiga rasa: ayam bawang, ayam goreng, dan keju. Entah apa yang ada di benak sang penyedia snack saat memutuskan akan menjual mie remes di Basdat. Yang pasti, mie rasa keju membuat saya tergoda. Tapi kok tampak ga ada yang berminat ya? Mecin banget sih. Hehe… Tadinya mau beli satu. Eh, ternyata harganya 1500 untuk 2 bungkus. Memang sudah sepatutnya saya beli dua :p

Karena takut tiba-tiba kenikmatan makan saya diganggu oleh sidak dari lab Programming, saya memutuskan makan di mushola. Seperti biasa, jarang ada yang nongkrong di sana :p Cemilan plus majalah emang klop. Sambil ngebaca kasus Letnan Watada dan ditemani semilir angin, saya makan sambil ngelemotin bumbu keju. Slurp slurp… Nyamm…

Setelah selesai menunaikan guilty pleasure tersebut, saya kembali ke Basdat. Ternyata setelah beberapa lama, di sana Cuco, Teguh, dan Febri pada makan mie remes juga. Hoho… masih banyak yang doyan ternyata. Tau gitu hadiahnya dikumpulin aja. Saya dapet yang kuda laut.

Gpp yah mecin sekarang, kan ujian masih lama. Seperti kata Anna, tar dengerin musik klasik aja biar nambah lagi pinternya.

(Hehe… ga penting banget ya ni postingan :D)

Semua Punya Alasan

Waktu denger berita BBC tadi pagi, ada satu berita yang sangat ear-catching. Saya lupa kata per katanya, tapi intisari beritanya sih seperti ini:

WHO mengeluhkan bahwa Indonesia tidak lagi membagi sampel virus H5N1 kepada negara-negara lain sejak awal tahun ini. Hal ini dikhawatirkan akan menghambat penelitian-penelitian internasional mengenai flu burung. Padahal, kerja sama internasional di bidang penelitian ini telah berlangsung selama puluhan tahun.

Kenapa nih? Kenapa nih?

Penghentian pembagian sampel virus H5N1 ini terkait dengan kerja sama eksklusif Indonesia dengan perusahaan pembuat vaksin di Amerika. Dengan kerja sama ini, diharapkan dapat dihasilkan vaksin dalam jumlah besar.

Wah lagi-lagi nih Indonesia, malah bikin kontrak sama perusahaan Amerika. Ga bagus nih..

Pejabat Indonesia mengatakan bahwa Indonesia berharap untuk mendapatkan hak paten untuk virus H5N1 yang ditemukan di Indonesia.

Ya ampyun… Orang-orang lagi dalam bahaya kena virus flu burung, ini malah dijadiin peluang bisnis. Ckckck…

Memang, selama ini pembuatan vaksin-vaksin untuk penyakit yang ada di dunia sebagian besar didapatkan dari sampel-sampel yang dikirim oleh negara-negara miskin. Namun, pembagian keuntungan dari vaksin ini tidak merata bagi negara pengirim sampel tersebut.

(Berita selesai)

Oooo gitu… Yaaa iya juga sih, tapi kan… hmmm, apa ya…. Boleh juga sih. Hehehe…

Kalau kita dengar berita-berita yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah kita, kadang-kadang rasanya emang aneh dan bikin geleng-geleng kepala (bukan ajep-ajep tapinya :p). Ngapain sih impor beras, katanya negara kita ini negara agraris? Ngapain sih pake bikin kontrak sama Microsoft, katanya mau IGOS?

Tapi kalau kita mau mengikuti secara seksama (bukan cuma “denger-denger” pas ngobrol sama orang aja) dan mendengar berita secara berimbang, dari beberapa berita aneh itu ternyata ada alasan yang masuk akal. Indonesia memang negara agraris, tapi kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap beras lebih banyak daripada beras yang diproduksi. Dengan kerja sama dengan Microsoft, Indonesia mendapatkan hibah dua lisensi Windows. Lisensi yang didapatkan pemerintah ini diperhitungkan dapat mengurangi angka pembajakan sebesar 10%. Mungkin masih ada yang lain. Misalnya soal subsidi BBM yang bikin harga naik. Kmaren-kmaren liat di Tempo, katanya BLT membantu penurunan tingkat inflasi Indonesia (jangan tanya saya kenapa bisa gitu :p) Saya ga ada maksud membela “kebijakan aneh” tersebut, tapi mencoba melihat dari sisi yang lain aja karena bagaimanapun itu bisa memperkaya wawasan kita (naooon? :p). Suatu saat alasan-alasan ini juga bisa dibantah ko. Hehehe…

Yang saya sebutkan di atas kata kuncinya “alasan masuk akal” yah. Jadi ini terlepas dari setuju atau tidaknya orang-orang terhadap alasan itu. Untuk hal-hal tertentu, misalnya soal kenaikan gaji anggota DPRD kmaren, kayanya se-“masuk akal” apapun alasannya, sebagian besar masyarakat ga akan pernah setuju 😀 Yah, lumayan lah sekarang PP no.37/2006-nya udah direvisi. Hehe…