Dari dulu rasanya sering banget denger perumpamaan romantik yang bilang kalau jiwa kita ini seperti punya “missing piece”. Trus nanti ada saatnya kita bertemu dengan seseorang yang membawa bagian yang hilang itu dan membuat jiwa kita “utuh”. Menggunakan perumpamaan seperti itu, menurut saya sih sebenernya jiwa kita ini dari awal udah utuh… tapi sebagian orang membuat lubang dalam jiwanya. Buat apa? Supaya mereka merasa punya tujuan, tersugesti bahwa saat bagian itu akhirnya terisi oleh hadirnya seseorang, hidup mereka akan lebih bermakna.
Saya sama sekali ga merendahkan kepercayaan banyak orang tentang adanya si “missing piece”, “soulmate”, “jodoh”, atau apa pun ini, tapi kadang-kadang penggambaran dan ekspektasi orang yang saya lihat udah agak gimanaaa gitu
Misalnya ada yang jadi uring-uringan karena merasa ga punya seseorang yang “melengkapi” hidupnya, merasa tak berdaya tanpa seseorang, dsb… seolah terlalu tergantung dengan adanya seseorang untuk membuatnya merasa menjadi manusia yang utuh.
Teman saya pernah bilang bahwa seseorang yang mendampingi kita hendaknya bukanlah “someone you can live with”, melainkan “someone you can’t live without”. Waktu itu sih saya langsung menggeleng-gelengkan kepala dan bilang “Sadis….”
Bukannya saya ga percaya sama relationship, tapi saya rasa pandangan seperti itu (bahwa mencintai seseorang berarti kita “tak bisa tanpanya”) adalah hal yang tidak sehat dan cenderung merusak. Relationship seharusnya mengajarkan dan membuat kita melihat keutuhan diri kita sendiri, bukan membuat kita memandang diri sendiri sebagai “setengah jiwa” yang tidak lengkap tanpa “setengah jiwa” yang lain.
Recent Comments