Archive for June, 2007

Bagian yang Hilang

Dari dulu rasanya sering banget denger perumpamaan romantik yang bilang kalau jiwa kita ini seperti punya “missing piece”. Trus nanti ada saatnya kita bertemu dengan seseorang yang membawa bagian yang hilang itu dan membuat jiwa kita “utuh”. Menggunakan perumpamaan seperti itu, menurut saya sih sebenernya jiwa kita ini dari awal udah utuh… tapi sebagian orang membuat lubang dalam jiwanya. Buat apa? Supaya mereka merasa punya tujuan, tersugesti bahwa saat bagian itu akhirnya terisi oleh hadirnya seseorang, hidup mereka akan lebih bermakna.

Saya sama sekali ga merendahkan kepercayaan banyak orang tentang adanya si “missing piece”, “soulmate”, “jodoh”, atau apa pun ini, tapi kadang-kadang penggambaran dan ekspektasi orang yang saya lihat udah agak gimanaaa gitu :P Misalnya ada yang jadi uring-uringan karena merasa ga punya seseorang yang “melengkapi” hidupnya, merasa tak berdaya tanpa seseorang, dsb… seolah terlalu tergantung dengan adanya seseorang untuk membuatnya merasa menjadi manusia yang utuh.

Teman saya pernah bilang bahwa seseorang yang mendampingi kita hendaknya bukanlah “someone you can live with”, melainkan “someone you can’t live without”. Waktu itu sih saya langsung menggeleng-gelengkan kepala dan bilang “Sadis….” :D Bukannya saya ga percaya sama relationship, tapi saya rasa pandangan seperti itu (bahwa mencintai seseorang berarti kita “tak bisa tanpanya”) adalah hal yang tidak sehat dan cenderung merusak. Relationship seharusnya mengajarkan dan membuat kita melihat keutuhan diri kita sendiri, bukan membuat kita memandang diri sendiri sebagai “setengah jiwa” yang tidak lengkap tanpa “setengah jiwa” yang lain.

Amadeus

Sebenernya film ini dah lama banget (1984). Yang suka nonton film bagus juga pastinya udah nonton. Hehehe… Tapi kmaren2 ada yang bahas film ini di Rileks, jadi pengen ngomogin lagi.

Film ini menceritakan dua komposer yang hidup sejaman, Salieri dan Mozart. Fokus ceritanya adalah Salieri yang termakan rasa iri hati akan kejeniusan Mozart. Dari sisi sejarah, kisah Salieri yang iri hati ini lebih kayak gosip yang agak keterlaluan sih. Ada juga yang bilang bahwa Salieri waktu itu sebenarnya termasuk komposer yang banyak dipuji dan berteman baik dengan Mozart.

Oke, sekarang lupakan sejenak Salieri dan Mozart yang kita baca dalam sejarah :P Dalam film ini, Salieri dan Mozart digambarkan sebagai dua orang yang mempunyai nasib bertolak belakang. Mozart adalah anak yang diberkati tuhan dengan bakatnya yang luar biasa dan lingkungan yang memfasilitasi pendidikan musiknya (bapaknya seorang komposer terkenal), sedangkan Salieri adalah anak biasa yang ingin menjadi seorang komposer dan dengan usahanya sendiri harus berjuang untuk memulai impiannya. Bagaimanapun, Salieri yang terlahir sebagai orang biasa ga akan “menang” kalau dibandingin sama Mozart yang terlahir sebagai seorang jenius.

Menurut saya, film ini bagus banget dalam mengeksplorasi sisi emosional tokoh Salieri, yang ngerasa dunia ga adil karena tuhan menganugerahkan kejeniusan pada orang yang berantakan, kekanak-kanakan, dan doyan hedon kayak Mozart, bukannya kepada orang yang tekun dan hidup baik2 seperti dirinya. Sebenernya kasian juga sama Salieri, soalnya dalam cerita seperti ini dia selalu jadi simbol “mediocrity” yang bisa aja jadi pintar tapi ga akan pernah bisa jadi jenius. Tapi dengan penggambaran yang seperti ini, saya malah jadi bersimpati sama tokoh Salieri, bisa ngerasain rasa irinya. Kadang2 saya juga mikir, mestinya usaha yang besar juga diberi penghargaan seperti bakat yang besar. Bukan berarti tokoh Mozart selalu kebagian enaknya sih, banyak saat2 menyedihkannya juga. Tapi teteup… buat saya, di film ini ga ada yang ngalahin emosi yang dibawa oleh tokoh Salieri. Huhuhu…


Calendar

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

a