Dilema Penunggang Keledai

Ada satu cerita yang pernah saya baca di buku kumpulan kisah Nasruddin Hoja (bayangkan settingnya Turki abad ke-15)

Alkisah, pada suatu hari seorang ayah dan anaknya berjalan-jalan ke kota menggunakan seekor keledai. Si Anak duduk di atas keledai, sementara Si Ayah berjalan menuntun keledainya. Ketika mereka lewat di depan serombongan orang, terdengar salah satu dari mereka berkata, “Dasar anak tidak tahu diri, membiarkan bapaknya yang sudah tua kelelahan berjalan sementara dirinya enak-enakan duduk.”

Mendengar hal itu, Si Anak turun dan meminta ayahnya naik ke punggung keledai. Akhirnya Si Ayah yang duduk dan Si Anak menuntunnya. Beberapa lama kemudian, mereka melewati segerombolan orang yang lain. Terdengar komentar, “Dasar lelaki tidak tahu diri, enak-enakan menunggang keledai dan menyuruh anak kecil kepayahan menuntunnya.”

Setelah itu, Si Ayah turun dari keledai dan menuntun keledai bersama anaknya. Saat mereka melewati serombongan orang, terdengar lagi komentar, “Dasar orang bodoh, membawa keledai tapi tidak digunakan.”

Akhirnya mereka berdua sama-sama naik ke atas punggung keledai. Tak lama kemudian terdengar lagi komentar, “Dasar manusia kejam, tak punya belas kasihan pada binatang. Masa keledai kecil itu dinaiki berdua?”

Nah, hikmahnya adalah… jangan jalan-jalan sambil bawa keledai :D Hehe, becanda… Dikisahkan beberapa saat kemudian, mereka berhenti di jalan. Setelah sejenak menarik nafas, Si Ayah berkata kepada anaknya, “Anakku, demikianlah manusia. Kau tidak akan pernah bisa memuaskan semuanya.”

11 Responses to “Dilema Penunggang Keledai”


  1. 1 diBond May 25, 2007 at 10:08 am

    WOW!!! Gi, sy uda srg denger cerita itu, tapi baru tau terakhirnya si Nasruddin bilang kaya gitu. Sugoi… Emang bener juga ya. Noone can satisfy everyone.

  2. 2 larashati May 26, 2007 at 1:03 pm

    tuh crita kayaknya ada di buku cerita 1001 malam Abu Nawas….

  3. 3 Muhammad Ismail Faruqi May 26, 2007 at 8:31 pm

    Itu Pak Nasruddin ngomong “Anakku,” sama nggak seperti bu Inge ngomong “Anakku?!”
    BTW hikmahnya kan kita harus punya prinsip Gi, jangan mau terbawa pendapat orang banyak tanpa dikaji…

  4. 4 nie June 4, 2007 at 12:22 pm

    okay..kita emg harus punya prinsip,
    tp juga tetep harus bertoleransi dg orang lain kan..
    so? bingung dah,
    dalam hidup emg harus ada yg dikorbankan [ra nyambung ^^]

  5. 5 jaya June 4, 2007 at 6:22 pm

    gi, sug ghoiiiiiii ….

  6. 6 eecho June 10, 2007 at 1:57 pm

    klo nasruddin kan bilangnya “Anakku, demikianlah manusia. Kau tidak akan pernah bisa memuaskan semuanya.”

    klo saya paling bilang “Anakku, lain kali klo kita berpergian naek angkot aja ya“

    Tapi itu nasruddin ya? dia tuh punya anak ya? sy sering denger sih cerita ini tapi nggak tau klo itu tuh nasruddin.

  7. 7 giaferdi June 10, 2007 at 8:16 pm

    bukan… kalo di cerita yang di buku itu, nasruddin tuh si anaknya… :D

  8. 8 taufik July 23, 2007 at 8:57 am

    yg jelas komentar org itu beda2 :P
    btw, ko pada nganggap nashruddin itu sebagai ayah
    padahal ga disebutin di cerita ya gi? :P
    btw komentar2nya negatif smua ya?
    ga ada yg positif napa?
    jwb:namanya jg kisah..

  9. 9 Vie October 10, 2007 at 12:15 pm

    Kadang kita harus dengerin orang lain
    tapi kadang ga semua kata orang harus didengerin..

    Yang agak susah menurutku,
    menentukan kapan saatnya ngedengerin orang lain
    dan kapan saatnya anjing menggonggong kafilah berlalu

  10. 10 fadlilsangaji November 4, 2009 at 4:56 am

    kekeke.. saya juga nulis cerita yang sama.. cuman pake bumbunya beda.. ga masalah yang penting maknanya..
    oyo.. salam kenal.


  1. 1 PressPosts / User / rev3nant / Submitted Trackback on June 1, 2007 at 10:31 am

Leave a Reply




Calendar

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

a