Archive for May, 2007

Dilema Penunggang Keledai

Ada satu cerita yang pernah saya baca di buku kumpulan kisah Nasruddin Hoja (bayangkan settingnya Turki abad ke-15)

Alkisah, pada suatu hari seorang ayah dan anaknya berjalan-jalan ke kota menggunakan seekor keledai. Si Anak duduk di atas keledai, sementara Si Ayah berjalan menuntun keledainya. Ketika mereka lewat di depan serombongan orang, terdengar salah satu dari mereka berkata, “Dasar anak tidak tahu diri, membiarkan bapaknya yang sudah tua kelelahan berjalan sementara dirinya enak-enakan duduk.”

Mendengar hal itu, Si Anak turun dan meminta ayahnya naik ke punggung keledai. Akhirnya Si Ayah yang duduk dan Si Anak menuntunnya. Beberapa lama kemudian, mereka melewati segerombolan orang yang lain. Terdengar komentar, “Dasar lelaki tidak tahu diri, enak-enakan menunggang keledai dan menyuruh anak kecil kepayahan menuntunnya.”

Setelah itu, Si Ayah turun dari keledai dan menuntun keledai bersama anaknya. Saat mereka melewati serombongan orang, terdengar lagi komentar, “Dasar orang bodoh, membawa keledai tapi tidak digunakan.”

Akhirnya mereka berdua sama-sama naik ke atas punggung keledai. Tak lama kemudian terdengar lagi komentar, “Dasar manusia kejam, tak punya belas kasihan pada binatang. Masa keledai kecil itu dinaiki berdua?”

Nah, hikmahnya adalah… jangan jalan-jalan sambil bawa keledai :D Hehe, becanda… Dikisahkan beberapa saat kemudian, mereka berhenti di jalan. Setelah sejenak menarik nafas, Si Ayah berkata kepada anaknya, “Anakku, demikianlah manusia. Kau tidak akan pernah bisa memuaskan semuanya.”

Gullible

Tau2 seorang temen saya yang udah lama kerja di Jakarta balik ke Bandung. Dia balik2 jadi pake kacamata, jadi tambah keren. Trus dia ngajak jalan2, ada acara yang rame katanya. Walaupun ada UAS TekBD, saya lebih milih jalan2 (ga bener ini…) Sambil ngomong, dia senyum manis sekali, cukup buat meyakinkan saya kalo ternyata selama ini saya ga bertepuk sebelah tangan. Rasanya seneng banget…

Eh tau2 bunyi alarm. Siyaaal… ternyata cuma mimpi. Kenapa ya, kan mimpi itu ga nyata, tapi perasaan kita saat itu terasa nyata? Dasar, perasaan manusia mudah sekali ditipu.

Penyempitan Arti

Jaman sekolah dulu, kita diajarin tentang “penyempitan arti” dalam bahasa Indonesia. Kata2 yang mengalami penyempitan arti ini contohnya “ulama” dan “sarjana” (oke, ga usah dibahas :p) Kalau saya perhatiin, sekarang ini ada beberapa kata yang arti dan penggunaannya secara umum lambat laun makin spesifik, yaitu “sukses” dan “cantik”.

“Sukses” yang digunakan sekarang ini biasanya artinya ga jauh2 dari jadi pengusaha yang berhasil, dapet banyak duit, punya banyak perusahaan, dsb. Kalau dulu, misalnya ada orang yang sejak kecil bercita-cita jadi guru, trus akhirnya waktu udah gede dia jadi guru, itu bisa dibilang sukses. Sekarang udah ga dianggap gitu kali yah. Mana mungkin orang “sukses” kalo cuma jadi pegawai, apalagi yang gajinya kecil. Mungkin penggunaan ini dipicu oleh buku2 motivasi wirausaha yah. Hehehe…

“Cantik” juga sekarang makin spesifik. Ini mah udah pada tau lah ya. Hehe… Liat aja di iklan, arti “cantik” jadi dibikin makin sempit. Salah satu syaratnya aja makin spesifik. Kulit, sekarang ini katanya pertama2 harus putih. Trus lama2 dibilang, putih aja ga cukup karena bisa tampak pucat. Jadi mesti putih yang sehat, putih yang bersinar. Abis itu ada lagi, putih ga boleh setengah2, “cantikmu baru lengkap jika putihnya sampai ke ujung kaki”. Wakakakak :D Kata temen saya, justru karena “cantik” artinya bisa sangat luas, maka penggunaannya jadi makin spesifik. Masuk akal juga sih penggunaan kata “cantik” yang direduksi oleh iklan2 produk kecantikan ini. Soalnya kalau “cantik” artinya bisa sangat luas, produk2 mereka ga akan laku :p

Sedikit mengkhayal… Mungkin ga yah kalau penggunaan kata seperti itu terus dilakukan dan terus meluas, beberapa puluh tahun lagi kedua kata tersebut akan mengalami penyempitan arti? Jadi ntar ceritanya “sukses” cuma sinonim dari “berhasil sebagai pengusaha” (dengan indikator keberhasilan yang spesifik) atau “cantik” jadi sinonim dari “berkulit putih dan halus, berhidung mancung, …” (ciri2 kecantikan yang didefinisikan oleh industri kosmetik). Hehe… Namanya juga khayalan sesaat.

Melankolis I

Kadang2 terngiang cuplikan liriknya Blur ini:

Sociability is hard enough for me…

[mode melankolis]

Pernah ga kalian mencoba melihat diri kalian dari sisi orang lain? Saya sih hampir ga pernah. Soalnya saya pikir, yang penting selama ini saya hepi2 aja sama diri saya sendiri. Tapi akhir2 saya coba juga membayangkan diri saya sebagai orang lain dan melihat diri saya sendiri. Dan setelah diliat2, saya ini tampak “unattractive” sekali yah. Huhu…

Kalau lagi ada banyak temen, saya ga begitu suka ngobrol. Kalau ada temen baru, saya ga tertarik untuk kenalan. Di acara2 yang bisa jadi ajang bersosialisasi, saya milih mencari kesibukan sendiri. Jadi ga bisa protes sama orang2 yang bilang kalo kesan pertama kenal saya tuh “dingin”, “sombong”, “ga peduli”, dsb (“pendiam” sih mendingan). Intinya sih saya ini bukan orang yang “sociable”. Trus dari tampilan, kesannya saya nih serius banget. Bener2 bukan tipe yang bisa membuat orang lain tertarik. Kayanya enak juga jadi cewek2 tokoh utama di komik yang walaupun ceroboh dan sok imut (hehehe… subjektif!), hidupnya tetap bahagia karena pandai berteman :p

Hmmm… mesti sedikit mengubah sifat2 yang menunjukkan “ketidakpedulian” saya nih. Tapi sementara itu, mudah2an aja masih ada orang yang sabar berteman dengan saya selama beberapa waktu untuk melihat diri saya yang sesungguhnya. Karena sebenarnya saya ini orangnya cukup peduli dan cukup perhatian kok (halah…).


Calendar

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

a