Waktu saya SMU, pas jaman2nya lagi ngetren buku “Keruntuhan Teori Evolusi”-nya Harun Yahya, teman saya beli buku “The Origin of Species”-nya Darwin. Dia bilang, dia pengen tau sendiri gimana teori evolusi yang sebenarnya. Dia pengen tau dari sumbernya, bukan dari pendapat yang menentangnya. Sayangnya, kalau kita perhatikan, ga semua orang mau seperti itu. Beberapa ide besar saat ini udah langsung dicap buruk oleh beberapa orang, padahal mereka ga pernah cari tau “dari sumbernya”. Beberapa ide itu misalnya gagasan mengenai feminisme dan komunisme.
Dulu saya pernah didoktrin bahwa feminisme itu jelek, karena perempuan dan laki-laki sudah “kodratnya” berbeda. Ini didukung oleh dogma yang diajarkan pada saya, bahwa secara fitrah perempuan seharusnya begini, laki-laki seharusnya begitu. Tapi waktu saya baca buku “Feminist Thought”-nya Rosemarie Putnam Tong, feminisme ga segitu bertentangan dan ga segitu jeleknya ah. Malah banyak yang masuk akal buat saya. Intinya adalah penolakan terhadap budaya patriarkal dan penghapusan opresi terhadap perempuan. Image buruk yang dilekatkan justru berasal dari pandangan sebagian masyarakat yang terlanjur memahami hal yang salah sebagai bagian dari feminisme.
Misalnya pernah ada seorang temen saya yang bilang, “Temen saya mah feminis banget, soalnya kalau laki-laki ga ngebukain pintu buat dia tuh dianya langsung marah-marah.” Saya cuma bilang, “Itu mah bukan feminis, tapi rese.” Soalnya yang kaya gitu sama sekali ga ada hubungannya dengan feminisme, justru malah bertentangan karena feminisme menolak budaya yang melekatkan label kewajiban gender seperti itu. Atau ada juga yang bilang “Saya ga tau apa itu feminisme, tapi laki-laki dan perempuan kan emang dasarnya berbeda, ga bisa disama-samain.” Yang ini aneh juga, kenapa ga cari tau apa itu feminisme? Baru dari situ simpulkan apakah berbeda dengan yang dia yakini. Karena yang saya tau, feminisme ga menampik perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Yang ditentang adalah diskriminasi yang didasarkan pada perbedaan tersebut, yang sebenarnya tidak signifikan. Misalnya, perlakuan terhadap perempuan jelas ga bisa selalu disamakan karena dia punya rahim, bisa melahirkan, dsb, tapi itu bukan dasar untuk mengatakan bahwa perempuan yang menolak menikah itu mengingkari “kodrat”, perempuan kewajiban utamanya mengurus rumah tangga, ga bisa jadi pemimpin, dsb.
Sebenernnya pengen ngomong soal komunisme juga sih. Tapi ntar bisa didemo dan disegel kayak toko buku Ultimus udah kepanjangan. Hehehe… Intinya sih yang saya liat sekarang ini, kalau orang nyebut “komunisme”, image yang pertama muncul dalam bayangan beberapa orang Indonesia adalah “ateis”. Padahal isi manifesto komunis itu sendiri adalah tentang hak kepemilikan, perburuhan, dan hal lain yang lebih berhubungan dengan itu, bukan konsep tuhan ada atau ga ada.
Ga bisa ditampik juga sih, mungkin kadang-kadang image buruk dari suatu ide besar itu datang dari pelaku atau pendukungnya sendiri. Tapi rasanya sekarang image buruk yang berasal dari pandangan masyarakat yang terlanjur punya image berbeda ini udah dalam taraf yang mengkhawatirkan. Kalau ada perempuan yang bicara sedikit aja soal keburukan budaya patriarkal dibilangnya “berlebihan”, “cerewet”, dan “feminis” (di mana feminis dianggap jelek). Dan kalau ada yang tertarik dengan konsep komunisme langsung disinisin dan dibilang “ateis” (di mana masyarakat kita cukup agamis). Ga masalah sih kalau ada yang menentang komunisme karena merasa konsep penghapusan hak milik pribadi itu ga masuk akal, tapi kenyataannya lebih banyak yang menentang dengan alasan “komunis menganggap tuhan ga ada”.
Hmmm… inti tulisan cukup panjang ini sebenarnya adalah sebuah saran. Kalau ingin tahu mengenai suatu paham atau ide, hendaknya pertama coba cari tahu dari sumber yang mendukungnya, baru dari yang menentangnya. Dari sini baru simpulkan kebaikan dan keburukan paham itu seperti apa, jangan langsung mencari sumber yang menentangnya dan mencap buruk. Ga jadi masalah akhirnya jadi setuju, menentang, atau bahkan ga peduli. Yang penting, ga salah memahami.
Recent Comments