Archive for December, 2006

Happy Feet

Tadi siang saya nonton Happy Feet di bioskop bareng Astrid dan si Ade. Sebenernya saya paling malesss nonton di bioskop kalo filmnya bukan film yang bikin saya tertarik, walopun nontonnya dibayarin. Tapi akhirnya saya ikut setelah dibilang bakal dibayarin makan juga. Hehehe…

Saya belum pernah baca review tentang Happy Feet, jadi ekspektasi saya awalnya sih film ini jenis film animasi yang lucu dan lumayan menghibur kayak Ice Age atau The Wild. Ternyata beda banget. Seperti ngarepin Doraemon dan dapetin Remi :p Mungkin lebih cocok kalo judulnya “The Adventure of Happy Feet” dan posternya bergambar pinguin yang lagi berjuang untuk tetep jalan di tengah badai salju (scene favorit saya di film ini :D ) Jadi seenggaknya tau kalo ini cerita petualangan yang “agak-agak serius” dan ga lucu untuk ukuran film anak. Inti ceritanya ada seekor pinguin yang “beda” dari kaumnya, namanya Mumble. Pinguin lain bisa nyanyi, cuma dia yang ngga bisa. Sebenernya dia jago tap dance, tapi semua pinguin ga menghargainya karena nganggep itu hal yang ga wajar buat seekor pinguin di kaumnya. Suatu waktu, komunitas pinguin ini mengalami masa sulit dalam mendapatkan ikan. Tetua-tetua bilang ini gara-gara si Mumble ngelakuin hal ”ga wajar” (soalnya dia suka banget tap dance). Tapi Mumble yakin kalo ini gara-gara ulah ”alien” yang ngambil ikan-ikan (yaa, pasti tau lah maksudnya alien itu siapa). Jadi dia bertualang buat membuktikannya.

Satu jam pertama (iya, saya ampe liat jam saking bosennya), filmnya buat saya cukup ga jelas. Terlalu banyak nyanyi-nyanyinya. Saya kira film anak-anak, tapi dari dialog dan lagu-lagu kayanya ini film bukan buat anak-anak. Salah satunya waktu Mumble ketemu sama Lovelace yang dikelilingi pinguin-pinguin betina. Di situ ada suara-suara dari pinguin betina yang tidak lazim saya temui di film anak-anak :p Saya baru ngerasa konek sama film ini waktu si Mumble-nya bertualang (30 menit terakhir kali ya). Ceritanya mulai mengharukan. Apalagi pas cerita si Mumblenya udah di “kebun binatang”, saya jadi terharu dan mikir “Sialan. Happy Feet kok ceritanya sedih” :D Somehow suara dan gaya penceritaan naratornya bikin saya inget sama film AI yang bikin nangis-nangis itu. Heuheu… Kalo dari awal ceritanya langsung serius kayak gitu dan ga pake nyanyi-nyanyi, mungkin bisa jadi film animasi favorit saya selain Toy Story 2 (yang ceritanya sedih itu loh).

Btw, waktu selese nonton, Astrid nanya ke si Ade.
“De, ngerti ngga ceritanya?”.
”Ngga.”
Jadi yang jelas, kalau mau menghibur anak-anak jangan nonton film ini. Kayanya terlalu serius dan kurang dimengerti sama anak kecil.

Be With You Forever

Judul aslinya Xiangban Yongyuan, film Mandarin produksi tahun 2000. Diliat dari judulnya, mungkin yang kebayang film “romantis” yah (“romantis” dikasih tanda kutip karena romantis itu relatif :p) Sebenernya ini film lebih banyak cerita politiknya. Film ini menceritakan kisah hidup Li Fuchun dan Cai Chang, pasangan suami istri pendukung gerakan komunis di Cina (tokoh nyata) dari masa2 perjuangan, kejayaan komunis, sampai revolusi kebudayaan di mana kaum muda menuntut mereka untuk “turun”. Pokoknya dalam senang dan susah deh. Oiya, waktu masa kejayaan komunis di Cina, Fuchun ini jadi salah satu senior leader dan Cai Chang jadi wakil gerakan wanita dari Cina di dunia internasional. Dan relationship mereka juga emang ga digambarkan yang romantis2, ke mana2 selalu bersama, dsb… tapi lebih kayak partner intelektual. Yah, macem Sartre ama deBeauvoir kali ya (tapi kalo Sartre kan ga nikah :-/ whatever…)

<spoiler>Kebersamaan mereka selama berpuluh2 taun itu bukan berarti ga ada masalah (ya iyalaah…). Ada masalah juga waktu Cai Chang berniat menggugurkan kandungan karena takut anaknya hidup menderita, atau juga waktu Fuchun dipecat karena dianggap pengkhianat. Salah satu adegan yang berkesan, waktu Fuchun ngedenger berita buruk dan marah2 sambil ngebanting2 gagang telepon. Istrinya cuma ngomong, “Jangan melampiaskan kemarahan pada barang milik negara.” Trus si Fuchun cari benda lain buat dibanting. “Itu juga milik negara,” kata istrinya. Sampai akhirnya Fuchun megang asbak, “Ini punyaku sendiri kan?” baru dibanting ke lantai deh :p

Endingnya juga berkesan, waktu Fuchun di rumah sakit dan “ngobrol” sama Cai lewat tulisan karena mereka berdua terhalang sama kaca. Tulisan2nya simpel, kayak “Rindu anak-anak”, “Ingin menangis keras-keras”… sampai pada suatu waktu tiba2 Fuchun nulis “Mencintaimu selamanya”. Dan ga lama kemudian tersungkur ke lantai dan meninggal :( Huhu… sumpah deh tu, adegan “romantis” film2 Hollywood lewat semua!</spoiler>

Intinya, kayanya film2 “romantis” sekarang mendingan nyeritain cinta2nya orang yang udah tua. Kalo masih muda, “wajar” aja lah sayang2an, bilang “my true love”, “my only one”, janji2 manis bakal bersama selamanya, mencintai selamanya, de el el. Tapi kalo udah tua, baru deh bisa dibuktiin. Lagian bosen liat cerita cinta anak muda, apalagi remaja, yang belum apa2 udah klepek2 jungkir balik gara2 masalah taksir2an. Hehe… bukannya sok2an bilang yang muda2 ga boleh romantis2an, tapi rasanya lebih bagus kalo lebih banyak film2 kayak gini (yang ceritanya orang tua). Jadi kita yang muda2 ini bisa mengambil hikmahnya. Halah :p

Fragmentasi Vertikal

Tenang… Bukan mau ngomongin teknik fragmentasi vertikal yang heboh itu ko :p Bukan juga ngomongin yang berat2.

Kemarin setelah presentasi Baster, Pak Catur nanya kira2 kenapa dari sekian banyak desain fragmentasi, hampir ga da yang melakukan fragmentasi vertikal. Kalau saya sih waktu itu mikirnya simpel, “emang lagi ga butuh”. Hehe… Tapi penjelasan Bapak lebih masuk akal. Katanya (kira2), kalau desain basis data itu udah dalam bentuk normal, kemungkinan perlunya atribut2 dipisahkan sangat kecil. Dan kalaupun perlu dipisah, berarti dalam desain dia bisa jadi entitas yang berbeda. Jadi dalam dunia nyata, sedikit sekali kasus dilakukannya fragmentasi vertikal.

Hmmm, sayang juga yah. Kalau gitu kapan dong bisa nyoba teknik fragmentasi yang susah itu? Ngitung2 bond energy antar-atribut, ngitung split quality… Heuheuheu :p Agak kecewa juga nih, udah nyoba memahami teknik itu dengan sepenuh hati, ternyata di dunia nyata jarang dipake. Huh! (cuma sok2an, padahal seneng juga karena ngitungnya susah :D ) Tapi bagus juga sih, yang susah emang ga bole sering2. Atau kalau gitu, mungkin teknik fragmentasi vertikal yang susah ini bisa dipandang sebagai hukuman bagi mereka yang malas melakukan normalisasi. Hehe…

Babel

Pertama tau film ini udah agak lama, waktu nyari2 info tentang film terbarunya Gael García Bernal. Liat reviewnya dahsyat juga, soalnya melibatkan syuting di beberapa negara. Dan ternyata selain si Gael ada Brad Pitt dan Cate Blancett di credits paling atas. Kesan pertama nonton, film ini “Guillermo Arriaga banget” deh. Guillermo Arriaga ini yang nulis film2 lain seperti Amores Perros dan 21 Grams, di mana filmnya terdiri dari beberapa cerita berbeda yang saling berkaitan. Cerita Babel sendiri bergulir dari daerah perbukitan Maroko yang gersang, pemukiman di Meksiko yang penuh warna dan tradisi, sampai ke kota besar di Jepang yang masih terang benderang di malam hari.

Ada empat cerita utama di film ini: tentang anak kecil di Maroko yang jago tembak, tentang pasangan turis Amrik di Maroko yang mengalami insiden, tentang pengasuh anak yang ngebawa anak2 asuhannya tanpa izin ke Meksiko, dan tentang seorang cewek Jepang yang jablai :p Hehe… tepatnya sih tentang seorang cewek tunarungu dan gaul yang sangat haus kasih sayang. Keempat cerita ini berkaitan dalam alur yang maju mundur. Mungkin ga asing buat yang pernah nonton film Guillermo Arriaga yang lain, tapi alurnya lebih dinamis. Untuk beberapa cerita, keterkaitannya agak renggang. Walau begitu, menurut saya ceritanya tetap bisa dinikmati sendiri2. Yang menarik, dalam film ini kita bisa denger banyak bahasa. Ada Berber, Arab, Inggris, Spanyol, dan Jepang (walaupun saya ujung2nya liat subtitle Inggris juga :p) Bahasa isyarat juga ada.

Kalau menurut saya, akting yang paling keren di sini bukan dari pemain dengan credits teratas macem Bradd Pitt atau si Gael, tapi dari Rinko Kikuchi (pemeran Chieko, cewek Jepang tunarungu dan gaul yang sudah disebutkan di atas) Pas ngeliat dia dan temen2nya ngobrol, bahasa isyarat jadi keliatan keren dan gaul banget deh :D Karakter Chieko juga kuat banget, seorang remaja cewek yang percaya diri dan agak “pemberontak”, tapi di satu sisi desperate mencari kasih sayang dan ingin merasa diterima oleh seorang cowok.

Kembali ke si Gael, penggemarnya mungkin bakal kecewa karena perannya di film ini “lumayan gampang”. Hehe… bukan ngegampangin, tapi dibanding peran2 dia di film2 sebelumnya kayak jadi Che Guevara atau jadi cowok h*m*, kayaknya ini kurang menantang ya :p Tapi yaaa ga rugi lah nonton film ini. Karena rasanya banyak tokoh menarik macem Chieko dan Yussef (anak Maroko) yang bakal menarik perhatian. Dan kalau satu cerita dirasa kurang menarik, masih ada cerita lain yang bisa bikin penasaran ;)


Calendar

December 2006
M T W T F S S
    Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

a